Saturday, June 8, 2013

JIWA YANG BERHARGA 2

Iman Yang Tiada Mustahil (Markus 5:21-43)
Setelah memulihkan orang Gerasa tadi, Yesus kembali menyeberang danau. Ternyata Dia telah ditunggu oleh orang banyak yang datang berbondong-bondong. Baru saja Yesus turun dari perahu, tiba-tiba datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ia tersungkur di depan kaki Yesus, dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” (Mr 5:23).
     Seorang kepala rumah ibadat tersungkur di kaki Yesus. Di masa itu kepala rumah ibadat adalah sebuah posisi yang terhormat dalam komunitas Yahudi, karena status rumah ibadat yang hampir sama dengan gereja di masa kini. Akan tetapi, Yairus tidak mempedulikan status sosialnya. Baginya yang lebih utama adalah keselamatan anak perempuannya. Dia tahu betul, hanya Yesuslah yang sanggup menolong dia, karena itu tanpa mempedulikan orang banyak dan cibiran ahli-ahli Taurat, ia tersungkur dan memohon kepada Yesus. Yesus yang melihat kesungguhan hatinya, langsung mengikuti dia, bergegas ke rumahnya.
     Perjalanan ke rumah Yairus, yang mungkin tidak terlalu jauh itu, ternyata adalah perjalanan yang sulit dilakukan juga. Itu karena orang-orang yang mau bertemu Yesus begitu banyaknya, dan mereka begitu berdesak-desakan sehingga menyulitkan langkah kaki Yesus. Akan tetapi, di tengah-tengah orang banyak itu ada seorang perempuan yang berbeda. Perempuan ini telah menderita penyakit pendarahan selama 12 tahun. Ia telah menghabiskan seluruh hartanya untuk pengobatan. Ia telah mendatangi semua tabib di tanah Yudea, tetapi penyakitnya tidak sembuh, malah bertambah parah. Perempuan ini, bergabung dengan orang banyak yang berdesak-desakan di sekitar Yesus, karena ia ingin mendapat kesembuhan.
     Tapi, tunggu dulu. Orang-orang yang berdesak-desakan di sekitar Yesus begitu banyak. Lalu, bukankah penyakitnya adalah penyakit najis? Dalam Imamat 5:1-12, tertulis ketetapan hukum Taurat mengenai penyakitnya. Penyakit yang dideritanya membuat dia tidak boleh bergaul dengan orang biasa, dan karena penyakit itu suaminya berhak menceraikan dia. Itu karena setiap orang yang bersentuhan dengannya akan menjadi najis. Sekarang, ia harus melewati begitu banyak orang untuk sampai kepada Yesus. Bagaimana caranya ia bisa sampai kepada Yesus tanpa harus menyentuh dan menajiskan mereka? Bila ia nekat melakukannya dan ketahuan, ia akan dihukum mati. Apa yang harus dia lakukan? Apalagi belum tentu Yesus mau menemui orang najis seperti dia. Akan tetapi, perempuan ini memiliki iman yang luar biasa. Dia tahu bahwa dia sulit membuat Yesus menoleh kepadanya untuk mendengarkan keluhannya dan menyembuhkan dia. Namun baginya itu tidak perlu. Bukankah Yesus adalah Anak Allah yang Maha kuasa? Ia berketetapan di hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mr 5:28)
     Ia lalu berusaha keras untuk menyentuh ujung jubah Yesus, dan, berhasil! Ajaib! Dia merasakan sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Penyakitnya telah sembuh! Akan tetapi, Yesus tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dan perempuan ini mematung. Yesus berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”. Simon Petrus dan murid-murid yang mengiringinya menjawab sambil tersenyum, “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”. Perempuan itu mulai lega, tetapi, Yesus tidak beranjak. Yesus berhenti melangkah karena Ia mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, dan Ia memandang sekeliling untuk melihat orang yang melakukan tindakan iman yang begitu berani itu. Perempuan ini pun dengan ketakutan maju ke depan dan tersungkur di depan Yesus dengan hati yang pasrah. Ia mungkin berpikir bahwa ia akan dihukum karena kelancangannya, karena itu ia dengan tulus memberitahukan apa yang telah terjadi. Akan tetapi, apakah jawab Yesus? “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Mr 5:34b)
     Saudara-saudari yang terkasih! Iman yang tiada mustahil! Inilah yang diperagakan oleh perempuan yang menderita penyakit pendarahan dalam firman ini. Ia menantang dengan berani, kemungkinan dihukum mati karena mengumbar kenajisannya, dan menantang iman mutlak akan kuasa Yesus. Seringkali Anda dan saya mengalami kebuntuan seperti usaha perempuan ini untuk memperoleh kesembuhan. Semua cara sudah dipakai tetapi tidak mendapat hasil. Hanya ada satu cara yang tersisa, tetapi dengan logika manusiawi itu sepertinya adalah cara yang mustahil dan tidak biasa: iman kepada Yesus Kristus. Seringkali kita berhenti pada pikiran logis bahwa itu tidak mungkin. Akan tetapi, iman bukanlah suatu teori. Iman belum bisa disebut iman sampai ditantang secara nyata. Perempuan dalam perikop ini telah memperagakannya dan memperoleh bukan saja kesembuhan, tetapi juga keselamatan jiwanya.
     Saya juga mau memiliki iman yang nyata, yang tiada mustahil ini. Bagaimana dengan Anda? Caranya adalah dengan percaya secara mutlak akan kuasa Yesus, dan melangkahkan kaki dengan berani. Tutup mata dan telinga terhadap pandangan dan suara orang banyak serta bisikan iblis yang menakut-nakuti, dan melangkah dengan berani. Untuk mengemban karya penyelamatan manusia di zaman yang terakhir ini, iman seperti ini mutlak bagi kita. Oleh karena itu, sungguh tidak ada jalan lain, selain menantangnya. Mari!
Kisah tentang iman belum selesai. Ketika Yesus masih berbicara dengan perempuan tadi, datanglah beberapa orang dari rumah Yairus. Mereka membisikkan kepada Yairus sebuah berita sedih, “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” (Mr 5:35b).
     Betapa hancurnya hati Yairus mendengar berita itu. Ia sudah bergegas menemui Yesus, dan berusaha selekas-lekasnya tiba di rumah demi anaknya. Sambil melangkah ia terus berdoa agar anaknya bertahan sampai mereka tiba, tetapi kini semuanya sudah selesai. Untuk apa lagi buru-buru pulang bersama Yesus jika anak yang mau disembuhkan sudah mati? Apa lagi yang bisa dilakukan sekarang? Mungkin seperti itulah keputusasaan yang menyergap Yairus dan menguasai hatinya. Akan tetapi, Yesus juga mendengar kabar itu. Dan, apa reaksinya? Mari lihat ayat 36. Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”.
     “Jangan takut, percaya saja!”, kata Yesus kepada Yairus yang putus asa. Sungguh suatu kalimat yang berlawanan dengan kenyataan. Yairus dikuasai keputusasaan karena anaknya sudah mati. Di benaknya mungkin ia berpikir, “sekalipun Yesus penuh kuasa, tetapi apa yang bisa Ia lakukan untuk anak perempuanku yang sudah mati?”. Yesus bukannya tidak mengetahui apa yang Yairus rasakan dan pikirkan, tetapi Yesus juga tahu persis apa yang Yairus perlukan. Yang dia perlukan adalah iman yang hidup tentang kebangkitan, iman yang melampaui kematian. Karena itulah Yesus berkata dengan tegas, “Jangan takut, percaya saja!”.
     Lalu Yesus melarang orang banyak untuk ikut serta. Bahkan di antara para murid pun hanya tiga murid utama yang dibawanya ke kediaman Yairus. Itu karena karya Allah hanya bisa melibatkan mereka yang memiliki iman saja, dan dalam karya Allah tidak ada yang namanya penonton atau penggembira. Sesampainya di rumah Yairus, segenap keluarganya sudah berkumpul dan meratapi kematian anak perempuannya. Suara ratapan mereka begitu ribut dan menyesakkan hati. Yesus menegur mereka untuk diam, tetapi justru Yesus-lah yang mereka tertawakan. Oleh karena itu, Ia lalu menyuruh mereka semua keluar, dan hanya orang tua anak itu dan mereka yang bersama Yesus yang boleh ada di ruangan itu. Agar karya Allah yang hidup terjadi, suasana manusiawi harus disingkirkan terlebih dahulu. Semua pandangan dan cara manusia yang “biasanya” dipakai harus dibuang, dan mengenakan semata-mata iman.
     Yesus kemudian memegang tangan anak itu, dan berkata: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” (Mr 5:41). Hanya dengan sepatah kata, Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus. Haleluya! Semua yang ada di tempat itu pun takjub melihat hal itu. Anak perempuan yang telah mati itu bangkit berdiri dan mulai berjalan.
Saudara-saudari yang terkasih! Apakah yang paling membawa keputusasaan dalam hidup kita? Di depan Yesus, keputusasaan yang besar karena kematian pun lenyap, hanya dengan sepatah kata. Kalau begitu, apa lagikah yang bisa membawa keputusasaan ke dalam kehidupan kita? Tidak ada satu pun. Akan tetapi, hal itu tidak akan menjadi milik kita secara nyata bila kita belum bertemu dengan Yesus yang berkuasa memberi hidup. Kita harus bertemu dengan Yesus yang sanggup memberikan jalan keluar dalam keadaan seburuk apapun. Iman yang nyata dan mutlak akan Yesus inilah kunci kemenangan kita atas maut sekalipun.
Saya sungguh-sungguh berdoa agar kita semua menyambut dunia iman yang nyata dan hidup sebagai dunia kita. Bagi saya pribadi, dunia iman yang nyata dan hidup seperti ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Saya tahu betul di depan dunia yang gelap, yang licik dan penuh tipu daya setan dan iblis ini, saya hanya akan bisa menang bila saya memiliki dunia iman yang nyata dan hidup. Saya rindu kita semua menyadari hal ini juga, karena setiap kita pun telah dipercayakan misi yang besar di zaman terakhir ini. Sungguh tidak ada jalan lain selain, “jangan takut, percaya saja!”. Sekali lagi, mari!

 

Penutup

Setiap jiwa berharga di mata Tuhan. Bahkan seorang gila yang kerasukan legiun roh jahat pun, demi dia, Yesus datang untuk membawa keselamatan. Hari ini kita hidup di zaman di mana standar nilai menjadi serba relatif dan abu-abu. Nilai satu jiwa pun menjadi relatif dan abu-abu. Jiwa manusia dinilai dari uang yang dihasilkannya, status sosialnya, dari ras atau etnisnya, dan terlebih-lebih, dari agama atau ideologinya. Firman hari ini menegaskan kepada kita nilai setiap jiwa adalah sama, tanpa pembedaan sama sekali. Nilai setiap jiwa adalah darah Yesus yang tercurah di atas salib bagi kita.
     Tuhan memanggil kita untuk menjadi gembala bagi dunia yang relatif dan serba abu-abu ini. Kita hanya akan menjadi gembala yang baik, dan rekan sekerja Tuhan, bila kita memiliki hati yang sama dengan hati Yesus ketika Dia menyeberangi danau Galilea untuk menyelamatkan seorang bukan Yahudi yang kerasukan roh jahat. Saya berdoa agar melalui apa yang kita renungkan hari ini, kita semua menanggalkan semua pemahaman dan konsep kita yang keliru, yang tercemar oleh cara pandang dunia, dan mengenakan hati dan pikiran Yesus semata-mata.
     Selain itu, untuk mengemban tanggung jawab kita sebagai gembala di dunia yang kacau ini, kita juga membutuhkan iman yang hidup dan nyata. Iman yang menantang dengan berani di depan kemustahilan, seperti perempuan yang menderita pendarahan yang menjamah jubah Yesus, dan iman yang melampaui kematian. Hanya dengan itu, kita bisa tahan dan meraih kemenangan atas segala tipu daya setan dan iblis.

     Kita dipanggil untuk menjadi gembala dan rekan yang baik bagi Tuhan, dan bukan untuk menjadi pekerja yang gagal. Di depan kita ada karya-karya perintisan yang akan menjangkau seluruh Nusantara, dan karya misi dunia, yang akan sampai ke ujung bumi. Itulah bagian kita. Jangan mau kalah dan putus di tengah jalan, tetapi melangkah maju dan meraihnya dengan kemenangan yang indah. Itulah doa saya, dan saya percaya, doa kita semua. Amin.

No comments:

Post a Comment